Pages

13 Oktober 2011

RUANG LINGKUP EKONOMI MAKRO


Titik berat penelaahan ekonomi makro adalah pendapatan nasional. Pendapatan Nasional atau lebih tepatnya Produk Nasional Bruto (PNB) bisa digunakan untuk mengukur kemakmuran material masyarakat secara kuantitatif.  Sesuai namanya ekonomi makro,  maka lingkup kegiatan ekonomi yang dipelajari adalah ekonomi masyarakat secara agregat, bukan secara indifidu.

Untuk mempelajari PNB ini ada tiga pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan pengeluaran oleh berbagai rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan ekonomi nasional, pendekatan penerimaan oleh para pemilik factor produksi yang terlibat dalam proses produksi, dan pendekatan produksi.


Pendekatan Pengeluaran.
Pengeluaran yang dimaksud dalam ekonomi makro adalah pengeluaran yang dilakukan oleh   rumah tangga individu, perusahaan, dan Negara.
Pengeluaran oleh rumah tangga individu untuk membeli kebutuhan yang berupa barang maupun jasa disebut konsumsi (C = consumption ). 
Pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk membeli barang modal disebut Investasi ( I = Investmen).
Pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah untuk membeli barang dan jasa dari swasta disebut pengeluaran pemerintah ( G = government Expenditure).
Pengeluaran yang  disebabkan oleh pembelian barang dan jasa oleh orang dan badan asing disebut ekspor netto atau net esport,  X - M = ekspor – import.

Apabila dibuat rumusan maka Pendapatan Nasional dapat dituliskan sbb:

Y = C + I + G + ( X – M )
Y       = Pendapatan Nasional Bruto (PNB)
C       = Consumption ( Konsumsi oleh rumah tangga individu)
I         = Investement ( Investasi yang dilakukan oleh rumah tangga
              perusahaan)
G       = Government Expenditure (pegeluaran oleh pemerintah)
X – M = Net Eksport (selisih antara ekspor dengan impor).


Konsumsi
Besarnya konsumsi ikut menentukan besarnya PNB. Konsumsi merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga individu atas dorongan  motif yang berasal dari dalam diri manusia  dan bersifat subyektif, yakni keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Besarnya konsumsi sangat tergantung dari pendapatan. Semakin tinggi pendapatan maka konsumsi cenderung ikut membesar, dengan kenaikan yang tidak proporsional.

Investasi
Merupakan pengeluaran rumah tangga perusahaan untuk membeli barang modal baru, yang merupakan penambahan barang modal riil pada stok barang yang sudah ada oleh perusahaan swasta domestik.  termasuk investasi antara lain pembelian mesin-mesin untuk produksi, pembuatan rumah baru, perubahan nilai barang cadangan akibat perubahan jumlah maupun harga.

Pendekatan Penerimaan.
PNB dari penerimaan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan penghasilan atau penerimaan yang diperoleh para pemilik factor produksi dalam suatu masyarakat selama kurun waktu tertentu, biasanya satu tahun.

Penghitungan PNB dengan cara pengeluaran maupun penerimaan seharusnya menghasilkan angka yang sama, artinya besarnya PNB pengeluaran = besarnya PNB penerimaan.
Dalam kegiatan ekonomi, apa yang dikeluarkan oleh salah satu rumah tangga pasti menjadi penerimaan rumah tangga yang lain.
Termasuk PNB  pendekatan penerimaan meliputi:
Penyusutan
Pajak tidak langsung
Upah an gaji
Sewa
Laba perusahaan perorangan
Deviden
Pajak perseroan
Laba tak dibagi.         

Pendekatan Produksi
PNB Pendekatan produksi (produk neto) dihitung dengan cara   menjumlahkan    nilai pasar semua produk akhir yang dihasilkan oleh  masyarakat selama satu tahun.  Produk akhir adalah semua barang atau jasa yang langsung dikonsumsi   oleh konsumen dan tidak diperjual belikan lagi.
Atau bisa juga dihitung dengan cara menjumlahkan semua  nilai tambah yang diperoleh setiap rumah tangga perusahaan. Nilai tambah  tersebut diperoleh setiap ada transaksi  dengan cara mengurangkan nilai jual dengan biaya pembelian.   Misalnya, contoh dalam skala kecil transaksi dan kegiatan produksi yang akan dilalui dalam menghasilkan baju.
Jenis kegiatan                            nilai produksi          nilai tambah
1. pembelian kapuk                         Rp.20.000             Rp 20.000
2. memintal jadi benang                   Rp 60.000             Rp 40.000
3. Mengolah jadi kain                       Rp 110.000           Rp 50.000
3. Mendesain dan menjahit baju       Rp 160.000                    Rp 50.000
4. menjual baju                                 Rp200.000           Rp40.000,
Jumlah                                                                           Rp200.000          
Penjumlahan nilai tambah tersebut adalah Rp(20.000+40.000+50.000+50.000) = Rp200.000.
Sedangkan nilai produk akhir  baju tersebut (harga baju) adalah juga Rp200.000.
PDB pendekatan produksi berarti menjumlahkan semua nilai tambah atau menjumlahkan niai semua produk akhir yang ada di negara tersebut dalam kurun waktu satu tahun.
Konsep pendapatan lain
Investasi Bruto: merupakan  penambahan keseluruhan stok modal yang ada. Misal petani  X  pada tahun 2009 memiliki stok modal  berupa mesin pengolah kripik sebanyak 2000 satuan, setelah satu tahun yakni pada 2010 jumlah modal ditambah sehinga menjadi 2500 satuan. Maka tambahan sebesar (2500 – 2000) satuan = 500 unit disebut investasi bruto

Investasi Neto: merupakan penambahan stok modal tidak termasuk penyusutan. Misal petani A pada tahun 2010 telah memiiki mesin kripik 2500 satuan, padahal pada tahun 2009 hanya punya 2000 satuan.  Selama berproduksi antara tahun 2009 sampai 2010 melakukan perbaikan atau penggantian komponen karena rusak dan aus senilai 100 unit. 
Maka besarnya investasi neto adalah besarnya investasi bruto dikurangi penyusutan. Jadi (500 – 100 )satuan = 400 satuan

Atau
Investasi Bruto = investasi Neto + penyusutan.

Untuk melihat perkembangan besarnya PDB dari tahun ke tahun tidak dapat hanya diihat dari besrnya nilai PDG tahun berjalan. Sebab setia peride selalu terjadi penurunan nili uang.

Missal tahun 1993, ada uang Rp.500, bisa untuk beli satu piring nasi goreng dan kenyang.
Pada tahun 2000, ketika punya uang Rp5000, tidak berarti bisa beli 10 piring nasi goreng dengan 10 kali kenyang. Sebabkenyataannya  harga-harga sudah naik sehingga uang Rp 5000, hanya bisa beli 1 piring nasi dan kenyang. Artinya uang Rp500, pada tahu 1993 niainya sama dengan Rp 5000, pada tahun 2000.

Demikian pula dalam menghitung PDB, maka pengaruh perubahan nilai harus dihilangkan dengan cara memberikan bobot tertentu pada harga yang digunakan. Bobot tersebut berupa indeks harga dan disebut deflator harga PDB berdasarkan tahun tertentu, misal menggunakan tahun dasar 1993. Untuk Indonesia   dilakukan oleh BPS Pusat Jakarta.

Missal PDB berdasar tahun berlaku pada tahun 1993 = Rp 329775,8 m, sedangkan tahun 2000 = Rp1117342,3 m,  
 antara tahuun 1993 sampai 2000 terjadi kenaikan PDB sebesar  (Rp1117342,3 m – Rp 329775,8 m)/ Rp 329775,8 m   x 100% = 300%   (kalau kenaikan sebesar ini tentu sangat fantastis).

Yang realistis adalah melihat  kenaikan PDB berdasar harga konstan (berdasar PDB yang telah di deflator).
Maka:
PDB harga konstan 1993 = Rp 329775,8 m
PDB harga konstan 2000 = Rp 397666,3 m
Perubahan PDB 1993 sampai 2000 : (Rp 397666,3 m - Rp 329775,8 m) / Rp 329775,8 m x 100% =20,6 %

Ternyata setelah dideflator, antara tahun 1993 sampai 2000, secara realistis PDB Indonesia hanya naik 20,6% (bukan 300 %)

PDB yang dihitung menggunakan harga berlaku sering disebut PDB Nominal, sedangkan PDB yang dihitung menggunakan harga konstan tahun tertentu disebut PDB Riil.

1 komentar:

UII Official mengatakan...

Terimakasih atas informasinya, sangat membantu.
salam kenal dari saya mahasiswa fakultas Ekonomi :)

Poskan Komentar

 
;