Pages

12 Oktober 2011

Kepemimpinan


Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard (1982:83), mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut :
“Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam usaha untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu”.

Pengertian kepemimpinan menurut Goerge R. Terry (1972:458) adalah :
“Kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam diri orang seorang atau pemimpin, mempengaruhi orang-orang lain untuk bekerjasama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai yang diinginkan pemimpin”.

Sedangkan, James A.F. Stoner (1982:468) mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut:
“Kepemimpinan manajerial sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas hubungan tugas anggota kelompok”.

Gaya Kepemimpinan

Hersey dan Blanchard membedakan adanya 4 gaya kepemimpinan, yaitu :
1.      Mengatakan (Telling), pemimpin mendefinikan peranan-peranan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas dan mengatakan pada pengikutnya apa, dimana, bagaimana, dan kapan untuk melakukan tugas-tugasnya.
2.      Menjual (Selling), pemimpin menyediakan instruksi-instruksi terstruktur bagi pengikutnya, tetapi juga suportif.
3.      Berpartisipasi (Participating), pemimpin dan pengikut saling berbagi dalam keputusan-keputusan mengenai bagaimana yang paling baik untuk menyelesaikan tugas dengan kualitas tinggi.
4.      Mendelegasikan (Delegating), pemimpin menyediakan sedikit pengarahan secara seksama , spesifik atau dukungan pribadi terhadap pengikut-pengikutnya.


Sedangkan menurut Ralph White dan Ronald Lippitt mengemukakan 3 gaya kepemimpinan sebagai berikut:
1.    Otoriter
a.     Semua determinasi “policy” dilakukan oleh pimpinan.
b.     Teknik-teknik dan langkah-langkah aktivitas ditentukan oleh pejabat satu per satu, hingga langkah-langkah mendatang senantiasa tidak pasti.
c.     Pemimpin biasanya mendikte tugas pekerjaan khusus dan teman sekerja setiap anggota.
d.    “Dominator” cenderung bersikap pribadi dalam pujian dan kritik pekerjaan setiap anggota; ia tidak turut serta dalam partisipasi kelompok secara aktif kecuali apabila ia memberikan demonstrasi.
2. Demokratis  
a        Semua “policies” merupakan bahan pembahasan kelompok dan keputusan kelompok yang dirangsang dan dibantu oleh pemimpin.
b        Perspektif aktivitas dicapai selama diskusi berlangsung. Dilukiskan langkah-langkah umum ke arah tujuan kelompok dan apabila diperlukan nasihat teknis, maka pemimpin menyarankan dua atau lebih banyak prosedur-prosedur alternatif yang dapat dipilih.
c        Para anggota bebas untuk bekerja dengan siapa yang mereka kehendaki dan pembagian tugas diserahkan pada kelompok.
d       Pemimpin bersifat objektif dalam pujian dan kritiknya dan ia berusaha untuk menjadi anggota kelompok secara mental, tanpa terlalu banyak melakukan pekerjaan tersebut.
3. Laissez-Faire
a.       Kebebasan lengkap untuk keputusan kelompok atau individual dengan minimum partisipasi pemimpin.
b.      Macam-macam bahan disediakan oleh pemimpin, ia akan menyediakan keterangan apabila ada permintaan. Ia tidak turut mengambil bagian dalam diskusi kelompok.
c.       Pemimpin tidak berpartisipasi sama sekali.
d.      Komentar spontan yang tidak frekuen atas aktivitas-aktivitas anggota dan ia tidak berusaha sama sekali untuk menilai atau mengatur kejadian-kejadian.

Model Kepemimpinan

1. Model Kepemimpinan Kontingensi (Fiedler)
Model kontingensi ciptaan Fred E. Fiedler merupakan “kakek” dari semua model kontingensi lainnya. Tidak ada seorang yang dapat menjadi pemimpin yang berhasil dengan hanya menerapkan satu macam gaya untuk segala situasi. Pemimpin itu akan berhasil menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda untuk menghadapi situasi yang berbeda.

Ada 3 sifat situasi yang dapat mempengaruhi efektivitas kepemimpinan, yaitu :
1.      Hubungan pemimpin-anggota, merupakan variabel yang sangat kritis dalam menentukan situasi yang menguntungkan.
2.      Derajat susunan tugas, merupakan masukan kedua sangat penting bagi situasi yang menguntungkan.
3.      Kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melaui wewenang formal, merupakan dimensi sangat kritis yang ketiga dari situasi.

2. Model 3 Dimensi Kepemimpinan  (Reddin)
            Pendekatan ini dinamakan 3-D model (model 3 dimensi) karena pendekatan ini menghubungkan tiga kelompok gaya kepemimpinan yaitu :
1.      Kelompok gaya dasar, dibagi menjadi gaya pemisah, pengabdi, penghubung, dan terpadu.
2.      Kelompok gaya efektif, dibagi menjadi gaya birokrat, otokrat bijak, pengembang, dan eksekutif.
3.      Kelompok gaya tak efektif, dibagi menjadi gaya pelari, otokrat, penganjur, dan kompromis.


3. Model Kontinum Kepemimpinan (Tannenbaum dan Schmidt)
Kedua orang ahli tersebut berpendapat bahwa ada tiga perangkat faktor yang harus dipertimbangkan oleh pemimpin dalam memilih gaya kepemimpinan yang akan dilakukan. Tiga faktor tersebut adalah :
1.      Kekuatan pimpinan, misalnya latar belakang pendidikan, latar belakang kehidupan pribadi, pengetahuan, kecerdasan, pengalaman, dan lain-lain.
2.      Kekuatan bawahan, menyebabkan pimpinan memilih gaya demokratis apabila bawahan sangat membutuhkan ketidaktergantungan dan kebebasan bertindak, ingin memiliki tanggung jawab dalam pembuatan keputusan.
3.      Kekuatan situasi, mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan seperti suasana organisasi, kelompok kerja khusus, tekanan waktu, dan faktor lingkungan lainnya.

4. Model Kontinum Kepemimpinan Berdasarkan Banyaknya Peran Serta Bawahan dalam Pembuatan Keputusan (Vroom-Yetton)
Kedua orang ahli tersebut berpendapat bahwa ada dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk mengikutsertakan bawahan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan, antara lain :
1. Tingkat efektivitas teknis diantara para bawahan
2. Tingkat motivasi serta dukungan para bawahan

5. Model Kontingensi Lima Faktor (Farris)
            Pengaruh terhadap perilaku pemimpin dapat datang dari pemimpin itu sendiri maupun dari bawahan dan dapat disalurkan secara berbeda antara kedua sumber tersebut. Ketepatan macam perilaku pemimpin tergantung pada 5 faktor, yaitu :
1. Wewenang pengawasan mengenai masalah yang ada
2. Wewenang anggota kelompok mengenai masalah
3. Pentingnya penerimaan dari pemberian keputusan pada pimpinan
4. Pentingnya penerimaan keputusan pada anggota kelompok
5. Tekanan waktu


6. Model Kepemimpinan Dinamika Kelompok (Dorwin Cartwright & Alvin Zander)
            Menurut penemuan studi yang pernah mereka lakukan, dapat dibedakan adanya dua macam perilaku kepemimpinan, yaitu :
1.      Pencapaian beberapa sasaran kelompok khusus, identik dengan perilaku pemimpin yang lebih mengutamakan tugas.
2.      Pemeliharaan dan penguatan kelompok itu sendiri, identik dengan perilaku pemimpin yang lebih mengutamakan hubungan antar orang.


7. Model Kepemimpinan “path-goal” (Evans dan House)
            Pendekatan “path-goal” berdasarkan pada model pengharapan yang menyatakan bahwa motivasi individu berdasarkan pada pengharapannya atas imbalan yang menarik. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemimpin sebagai sumber imbalan. Pendekatan ini mencoba untuk meramalkan bagaimana perbedaan tipe imbalan dan perbedaan gaya kepemimpinan mempengaruhi motivasi, prestasi, dan kepuasan bawahan.
            Evans berpendapat bahwa gaya kepemimpinan mempengaruhi imbalan yang disediakan bagi bawahan sebaik seperti perasaan bawahan tentang apa yang telah mereka kerjakan untuk mencapai imbalan mereka. Misalnya, pemimpin akan manawarkan jajaran imbalan yang luas bagi para bawahan – tidak hanya upah dan promosi, tetapi juga dukungan, semangat, keamanan, serta penghargaan.

8. Model Kepemimpinan “Vertical Dyad Linkage” (Graen)
            Model ini dinamakan pula “Vertical Dyadic Theory” oleh Martin J. Gannon. Dalam model ini Graen menitikberatkan pada “dyad” yaitu hubungan antara pemimpin dengan tiap-tiap bawahannya secara bebas. Tiap-tiap pemimpin harus memperhatikan perbedaan-perbedaan yang ada pada tiap individu bawahannya. Pendekatan ini berusaha memanfaatkan kelebihan ataupun kekurangan yang ada pada tiap bawahan.


9. Model Kepemimpinan Sistem (Bass)
            Pendekatan model kepemimpinan sistem terdiri dari :
1. Input
a.       Organisasi yang meliputi batasan, kejelasan, kehangatan, entrope, dan lingkungan luar.
b.      Kelompok kerja yang meliputi pertentangan didalam, saling tergantung, dan tanggung jawab pada kelompok.
c.       Tugas yang meliputi umpan balik, rutin, memilih kesempatan, kerumitan, ciri-ciri manajerial.
d.      Kepribadian bawahan yang meliputi kerjasama, kekuasaan, otoriter, dan memusatkan perhatian dan pikiran pada diri sendiri.
2. Hubungan
a.       Pembagian kekuasaan antara pimpinan dan bawahan
b.      Penyebaran informasi antara atasan dan bawahan
c.       Struktur ketat dan struktur longgar
d.      Tujuan jangka pendek dan jangka panjang
3. Perilaku Pemimpin
a.       Direktif, pemimpin memberitahukan kepada bawahannya apa yang mereka inginkan.
b.      Manipulatif, pemimpin berbaik hati pada bawahan, merubah perilaku untuk memastikan kesempatan, keyakinan, harapan, membuat mereka berlomba satu sama lain, menentukan kembali tugas-tugas untuk menyeimbangkan beban kerja.
c.       Konsultatif, pemimpin terus terang dan memberi kesempatan bertanya, mendengarkan bawahan, mencoba ide mereka, memberikan perhatian kemajuan pada perubahan.
d.      Partisipatif, pemimpin membuat keputusan bersama, menyusun pertemuan, memasukan saran kelompok ke dalam operasi, memperlakukan bawahan sama, mudah didekati dan bersahabat.
e.       Delegatif, pemimpin menunjukkan kepercayaan pada bawahan, memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengikuti arah mereka sendiri, mengizinkan mereka membuat keputusan sendiri.
4. Output
a.       Prestasi
b.      Kepuasan yang meliputi pekerjaan dan pengawas

10. Model Kepemimpinan Situasional (Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard)
Menurut Hersey dan Blanchard (1982:150) berdasarkan pendekatan situasional tiada satu jalan terbaik untuk mempengaruhi orang atau tiada satu jalan terbaik untuk memimpin. Pendekatan situasi didasarkan atas hubungan antara perilaku tugas, perilaku hubungan, serta tingkat kematangan bawahan. Kepemimpinan situasional didasarkan pada saling pengaruh antara :
1.      sejumlah petunjuk dan pengarahan (perilaku tugas) yang pemimpin berikan
2.      sejumlah pendukungan emosional (perilaku hubungan) yang pemimpin berikan
3.      tingkat kematangan yang ditunjukan oleh para bawahan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi, atau sasaran.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;