Pages

07 Maret 2012

Menjemput Bahagia Dengan Takwa

Takwa, singkat namun sarat makna. Betapa sering para khatib menyerukan kepada jama’ah sholat Jum’at setiap pekannya untuk melakukannya. Takwa, tak hanya mengingatkan kita tentang apa yang seharusnya kita tinggalkan demi mengharapkan ridha-Nya dan karena takut hukuman-Nya. Namun takwa juga mengingatkan kita akan kehidupan yang akan dialami manusia setelah kematiannya. Kehidupan yang penuh tanda tanya. Sebab saat ini tidak ada di antara kita yang bisa memastikan akan kemanakah dirinya; ke surga ataukah ke neraka? Sebuah pertanyaan besar yang tersimpan jawabnya di dalam suratan takdir di sisi-Nya.

Saudaraku, menentukan jalan hidup adalah perkara besar yang membuat banyak orang kelimpungan dan tak tahu harus ke mana dia melangkah. Padahal, ilham kepada jiwa tak lepas dari dua pilihan fujur (dosa) atau takwa. Sebagaimana yang Allah ta’ala nyatakan dalam ayat,

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefajiran dan ketakwaannya.” (QS. asy-Syams [91] : 8).

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menerangkan bahwa makna ayat ini; Allah menjelaskan kepada jiwa kebaikan dan keburukan. Tafsiran serupa juga disebutkan oleh Mujahid, Qatadah, adh-Dhahak dan ats-Tsauri. Sedangkan Sa’id bin Jubair mengatakan, “Artinya Allah mengilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukan.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/321).

Orang yang beruntung bukanlah yang melepaskan kendali dirinya dan menuruti bisikan hawa nafsu. Akan tetapi sosok yang akan menjadi pemenang adalah yang berjuang membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa. Allah ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams [91] : 9-10).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa maksud ayat di atas adalah keberuntungan itu akan didapatkan oleh orang yang membersihkan dirinya dari dosa-dosa dan menyucikannya dari berbagai perbuatan tercela serta melembutkannya dengan taat kepada Allah, mengangkatnya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926).

Maka untuk memiliki jiwa yang tangguh dan bertahan di atas jalur takwa seorang manusia harus meminta keteguhan dan taufik serta pertolongan Rabbnya. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah untaian doa yang indah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, sifat pengecut dan pelit, pikun dan siksa kubur. Ya Allah, karuniakanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia sebab Engkaulah satu-satunya yang bisa menyucikannya. Engkaulah penolong dan tuhannya. Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim dalam kitab adz-Dzikr wa Du’a wal Istiqghfar wa Taubah, hadits no. 2722).

Sesungguhnya ketakwaan telah menjadi barang mahal di jaman ini. Lebih mahal dari air di padang pasir yang tandus dan tetesan hujan di musim kemarau. Padahal, seperti yang sudah kita mengerti bersama bahwa kelompok yang beruntung adalah orang-orang yang bertakwa. Allah ta’ala berfirman tentang keindahan dan manisnya buah takwa dalam ayat,

الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Alif lam mim. Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa; yaitu orang-orang yang beriman terhadap perkara gaib dan mendirikan shalat serta membelanjakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman terhadap wahyu yang diturunkan kepadamu dan nabi-nabi sebelummu serta meyakini hari akhirat. Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Baqarah [2] : 1-5).

Jadi orang yang beruntung hanyalah orang yang bertakwa.

Kondisi jaman memang berbeda-beda. Namun perilaku dan kecenderungan manusia seolah-olah tak pernah berubah dari masa ke masa. Kebanyakan orang menyukai hal-hal yang bersifat sementara dan menghibur sesaat. Meskipun pada ujungnya hal itu menyebabkan penyesalan dan rasa sedih yang mendalam. Sejarah telah mencatat bagaimana umat-umat terdahulu binasa dan berhak menerima siksa akibat kedurhakaan mereka. Mereka menginginkan kesenangan yang sementara (dunia) dan nekad mengorbankan kesenangan yang abadi (surga), aduhai alangkah zuhudnya mereka…! Sebagaimana tololnya orang-orang munafik yang menjual akhirat dan agamanya dengan harga yang teramat murah. Allah ta’ala berfirman setelah menceritakan beberapa karakter mereka yang tercela,

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Mereka itulah orang-orang yang rela membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perdagangan mereka itu, dan mereka juga tidak memperoleh petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2] : 16).

Oleh sebab itulah kita dapati generasi terbaik umat ini -yaitu para sahabat- memendam perasaan khawatir yang sangat besar apabila mereka terjangkiti kemunafikan. Imam Bukhari meriwayatkan ucapan Ibnu Abi Mulaikah di dalam kitabul Iman, “Aku berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka semua khawatir dirinya terjangkit kemunafikan.” Hal itu tidak lain dikarenakan kemunafikan akan meludeskan perdagangan mereka, menghanguskan harapan indah mereka, dan melenyapkan kebahagiaan yang selama ini mereka idam-idamkan. Kemunafikan adalah gambaran terjelek dari orang yang mengaku bertakwa. Berbeda dengan orang kafir yang berterus terang mengibarkan bendera permusuhan terhadap umat Islam dengan lisan dan sepak terjangnya, orang-orang munafik secara lahir menampakkan persahabatan bahkan pembelaan kepada umat Islam namun pada hakikatnya mereka berusaha menghancurkan Islam dari dalam.

Maka sangatlah pantas jika Allah menggelari kaum munafikin sebagai pendusta. Allah ta’ala berfirman,

الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira dia dibiarkan mengucapkan kami telah beriman kemudian mereka tidak lagi mendapatkan ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-Ankabut [29] : 1-3).

Kemudian Allah ta’ala ceritakan sebagian sifat mereka,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah, namun apabila dia diberi cobaan di jalan Allah maka dia menganggap gangguan manusia seperti layaknya azab Allah. Dan apabila datang pertolongan dari Rabbmu, maka dia pun mengatakan, ‘Sesungguhnya kami bersama kalian’. Apakah Allah tidak mengetahui apa yang tersimpan di dalam dada manusia? Dan supaya Allah mengetahui siapakah orang-orang yang beriman dan siapakah sebenarnya orang-orang munafik itu.” (QS. al-Ankabut [29] : 10-11).

Mengapa pengakuan iman di lisan mereka tidak bisa meneguhkan iman yang ada di dalam hati mereka? Jawabnya, karena ketidaksabaran mereka dalam menghadapi cobaan dan musibah yang menimpa. Padahal tanpa sabar iman tak akan terjaga. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan, “Sabar bagi iman sebagaimana peran kepala bagi tubuh. Orang yang tidak punya sabar maka tidak ada iman padanya.” (Diriwayatkan oleh al-Lalika’i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah).

Oleh sebab itulah kita dapatkan di dalam al-Qur’an Allah ta’ala mengiringkan antara sabar dengan ketakwaan. Allah ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan membahayakanmu.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 120).

Sabar membutuhkan bahan bakar. Sementara bahan bakarnya tidak lain adalah ilmu, iman, tawakal, keikhlasan, mahabbah, khauf dan raja’. Oleh sebab itu Thalq bin Habib rahimahullah memberikan definisi yang sangat dalam tentang makna takwa. Beliau mengatakan, “Takwa adalah kamu beramal melakukan ketaatan kepada Allah di atas bimbingan cahaya dari Allah dengan mengharap balasan Allah. Dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas bimbingan cahaya Allah karena takut hukuman Allah.” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim di dalam Risalah Tabukiyah)

Marilah kita memohon kepada Allah petunjuk, ketakwaan, terjaganya kehormatan, dan kecukupan hati. Karena sesungguhnya Allah yang telah membentangkan jalan yang lurus ini untuk hamba-hamba-Nya dan Allah pula lah yang menuntun mereka berjalan di atasnya. Tiada daya dan kekuatan bagi kita kecuali dengan pertolongan dari-Nya. Kepada-Nya lah kita kembali dan kepada-Nya kita meminta pertolongan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;