Pages

18 April 2012

KEBIJAKAN DIVIDEN


Kebijakan deviden menyangkut tiga masalah :

  1. Seberapa banyak laba yang harus dibagikan secara rata – rata selama jangka waktu tertentu?
  2. Apakah pembagian itu sebaiknya dalam dividen tunai atau pembelian kembali?
  3. Apakah perusahaan sebaiknya mempertahankan tingkat pertumbuhan dividen yang stabil? 
Dalam menentukan jumlah kas yang akan dibagikan pada pemegang saham, manajer keuangan harus ingat bahwa tujuan perusahaan adalah memaksimalkan pemegang saham sehingga Rasio Pembayaran yang Ditargetkan (target payout ratio) yang didefinisikan sebagai presentase dari laba bersih yang harus dibayarkan sebagai dividen tunai dan sebagian besar harus didasarkan pada prefensi investor atas dividen lawan keuntungan modal. Prefensi ini dapat dipertimbangkan dalam pengertian model penilaian saham dengan pertumbuhann konstan :

      
        D1
P0    −−−−−−−
        Ks - g

Jika perusahaan menaikkan rasio pembagian D1 akan naik. Kenaikan dalam pembilang ini saja akan mengakibatkan harga saham naik. Namun jika dividen tunai meningkat, makin sedikit dana yang setia untuk reinvestasi, sehingga tingkat pertumbuhan yang diharapkan akan rendah untuk masa mendatang dan akan menekan harga saham.
Dengan demikian Kebijakan dividen yang optimal dalam perusahaan adalah kebijakan yang menciptakan keseimbangan di antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa mendatang yang memaksimumkan harga saham.



TEORI KEBIJAKAN DIVIDEN

A.        Kebijakan Dividen Tanpa Pajak

Asumsi: (1) perusahaan tidak mempunyai hutang, (2) tidak ada pajak, (3) arus kas operasi (NOI (t)) dan rencana investasi (I(t)) sama, maka tingkat pengembalian dalam satu periode, ku, untuk saham adalah:


 
                                          di(t+1) + pi(t+1) – pi(t)
                        Ku(t+1)= −−−−−−−−−−−−−−−−−−−
                                                                pi(t)


                              dimana,
 ku(t+1)   = biaya modal untuk suatu perusahaan unlevered pada periode t
               di(t+1)     = dividen per saham yang dibayarkan pada akhir periode i
               pi(t+1)     = harga per saham pada akhir periode t
               pi(t)         = harga per saham pada permulaan periode t

B.        Kebijakan Dividen yang Terkena Pajak

 Diperkirakan ada tiga jenis tarif pajak: (1)tarif pajak proposional (Tc), (2) tarif pajak penghasilan pribadi dari obligasi, dividen, dan upah (Tp), dan (3) pajak keuntungan modal (Tg)
Sepanjang ( Tp>Tg ), maka pemegang saham akan lebih menyukai perusahaan yang tidak membayarkan dividen. Mereka akan lebih untung jika dana tetap pada perusahaan atau dibayarkan melalui pembelian kembali saham yang beredar. Dengan demikian mereka membayar pajak atas keuntungan modal, yang lebih rendah daripada pajak pemghasilan biasa.
Kasus 1. jika perusahaan membayar semua arus kasnya sebagai dividen, pemegang saham ke-i akan menerima sesudah pajak, Ydi:



 
Ydi = [(NOI rDc) (1-Tc) – rDpi] (1-Tpi)

Dimana,
         Ydi   = arus penghasilan sesudah pajak
         NOI  = arus operasi perusahaan
         r       = suku bunga pinjaman
         Dc   = hutang perusahaan
         Dpi  = hutang pribadi individu
        

Kasus 2. jika perusahaan tidak membayar ividen, diasumsikan semua keuntungan modal dinikmati oleh penanam modal dan terkena tarif pajak keuntungan modal, maka:

Ygi = (NOI rDc) (1 - Tc) (1 –Tgi) – rDpi (1 – Tpi)

Dimana, Tgi = tarif pajak keuntungan modal


TIGA TEORI PREFENSI INVESTOR

Teori Ketidakrelevanan Dividen

Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh
terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya.
Pendukung utama teori ini adalah Merton Milller dan Franco Mondigliani (MM). Mereka berpendapat bahwa nilai suatu perusahaan hanya ditentukan kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba dan resiko bisnisnya.
Sebagai contoh, jika suatu perusahaan tidak membayar dividen , seorang pemegang saham yang menginginkan deviden sebesar 5% akan dapat menciptakannya sendiri dengan cara menjual 5% sahamnya, sebaliknya jika perusahaan membayar deviden lebih besar dari yang diinginkan investor, ia akan menggunakannya untuk membeli lebih banyak saham perusahaan. 
 
Teori Bird in the Hand

Teori ini menyatakan bahwa nilai perusahaan akan dimaksimalkan dengan menentukan rasio pembagian dividen yang tinggi.
Pendapat dalam teori ini menyatakan bahwa Ks akan turun apabila rasio pembagian dividen dinaikkan karena para investor kurang yakin terhadap penerimaan keuntungan modal yang akan dihasilkan dari laba yang ditahan dibandingkan dengan seandainya mereka menerima dividen.

Teori Preferensi Pajak

Ada tiga alasan yang berkaitan dengan pajak untuk beranggapan bahwa investor mungkin lebih menyukai pembagian dividen yang rendah daripada yang tinggi.
  1. Pertumbuhan laba mungkin dianggap menghasilkan kenaikan harga saham, dan keuntungan modal yang pajaknya rendah akan menggantikan dividen yang pajaknya lebih tinggi.
  2. Pajak atas keuntungan tidak dibayarkan sampai saham terjual. Karena adanya efek nilai waktu, satu dolar pajak yang dibayarkan di masa mendatang mempunyai biaya efektif yang lebih rendah daripada satu dolar yang dibayarkan hari ini.
  3. Jika selembar saham dimiliki seseorang sampai meninggal sama sekali tidak ada pajak keuntungan modal yang terutang, ahli waris yang menerima saham itu dapat menggunakan nilai saham pada hari kematian sebagai dasar biaya mereka, dengan demikian mereka terhindar dari pajak keuntungan modal. 
Karena adanya keuntungan – keuntungan pajak ini, para investor mungkin lebih suka perusahaan menahan sebagian besar laba perusahaan. Jika demikian maka para  investor akan mau membayar lebih tinggi untuk perusahaan yang pembagian dividennya rendah daripada perusahaan sejenis yang pembagian dividennya tinggi.

Menggunakan Bukti Empiris Untuk Menentukan Teori yang Terbaik

Ketiga teori ini memberikan saran yang saling bertentangan bagi para manajer perusahaan banyak pengujian empiris yang telah dilakukan tetapi hasil – hasilnya belum jelas. Ada dua alasan untuk ini : 
  • untuk pengujian statistik yang sah, hal – hal selain dari kebijakan dividen harus konsisten yaitu perusahaan yang dijadikan sampel haru berbeda hanya dalam kebijakan dividennya.
  •  harus mampu mengukur biaya ekuitas untuk perusahaan yang dijadikan sampel
Perbedaan individu lebih menjelaskan mana keputusan akhir yang akan diambil investor dalam menentukan investasinya.


ISU LAIN DALAM KEBIJAKAN DIVIDEN

Dua isu yang dapat mempengaruhi pandangan kita terhadap kebijakan dividen
  1. Hipotesis Kandungan Informasi atau Pengisyaratan 
Adalah teori yang menyatakan bahwa invetor menganggap perubahan dividen sebagai isyarat dari prakiraan manajemen atas laba. Ketika MM mengemukakan teori ketidakrelevannan dividen, mereka mengasumsikan bahwa setiap investor dan juga manager mempunyai informasi yang sama mengenai pendapatan dan dividen perusahaan di masa datang. Namun pada kenyataannya, investor yang berbeda mempunyai pandangan yang berbeda tentang tingkat pembayaran dividen di masa datang dan ketidakpastian yang melekat dalam pembagian tersebut, dan manajer mempunyai informasi yang lebih baik mengenai prospek masa depan daripada pemegnag saham.  Kenaikan dividen seringkali menyebabkan kenaikan harga saham, sementara pemotongan dividen umumnya menyebabkan penurunan harga saham. Hal ini menunjukkan para investor lebih menyukai dividen daripada keuntungan modal. Sedang MM menegaskan bahwa reaksi investor terhadap perubahan dalam kebijakan dividen tidak harus menunjukkan investor lebih menyukai dividen daripada laba ditahan, sebaliknya perubahan harga saham sesudah pembagian dividen hanya menunjukan ada kandungan informasi atau pengisyaratan uang penting dalam pengumuman dividen tersebut.

1.    Pengaruh Klientele

 Yaitu kecenderungan perusahaan untuk menarik sekelompok investor yang menyukai kebijakan dividennya. Kelompok yang berbeda atau clientele dari pemegang saham menyukai kebijakan dividen yang berbeda. Sebagai contoh, penerima pension dan dana bantuan universitas, lebih menyukai pendapatan tunai, sehingga mereka mungkin menghendaki agar perusahaan membagikan persentase yang besar dari labanya. Di lain pihak, pemegang saham yang berada dalam tahun-tahun puncak keuntungan mungkin lebih memilih reinvestasi, karena mereka tidak begitu membutuhkan pendapatan dari investasi dalam periode berjala. Mengingat pemegang saham dapat berpindah-pindah perusahaan, sebuah perusahaan dapat mengubah satu kebijakan pembayaran dividen ke yang lainnya dan membiarkan pemegang saham yang tidak menyukai kebijakan tersebut menjual sahamnya kepada investor lain yang menyukainya. Namun peralihan tidak efisien karena (1) adanya biaya pialang, (2) kemungkinan bahwa pemegang saham yang menjual saham tharus membayar pajak keuntungan modal, dan (3) adanya kemungkinan kekurangan investor yang menyukai kebijakan dividen yang baru.

STABILITAS DIVIDEN

Stabilitas dividen penting. Laba dan arus kas yang berubah-ubah sepanjang waktu, demikian juga peluang investasi. Jadi, memaksimalkan harga saham mengharuskan perusahaan menyeimbangkan kebutuhan dana untuk internal dan keinginan para pemegang sahamnya.
Bagaimana keseimbangan ini dapat tercapai? Solusi yang relevan di antaranya:
  • Setiap perusahaan yang dimiliki public membuat peramalan keuangan lima atau sepuluh tahum umtuk laba dan dividen. Dan peramalan itu danya untuk internal. Tetapi dengan analisis sekuritas peramalan tersebut dapat diketahui oleh investor.
  •  Kebijakan dividen saat ini dikatakan stabil apabila meningkatkan dividen pada laju yang mantap.
Kebijakan paling stabil pertama,  dari sudut pandang investor, yaitu kebijakan perusahaan yang tingkat pertumbuhan dividennya dapat diramalkan, seperti total pengembalian perusahaan itu akan relative stabil dalam jangka panjang dan sahamnya merupakan penangkal baik terhadap kenaikan inflasi.
Kebijakan paling stabil kedua, adalah bila pemegang saham mendapat cukup kepastian bahwa dividen saat ini tidak akan dikurangi, jumlahnya mungkin tidak bertumbuh pada tingkat yang mantap, tetapi manajemen mungkin akan mampu menghindari pemotongan dividen.
Situai paling tidak stabil, yaitu bila laba dan arus kas begitu mudah berubah sehingga investor tidak dapat mengandalkan perusahaan untuk mempertahankan dividen saat ini.
  • Biaya ekuitas diminimumkan dan harga saham dimaksimumkan, jika suatu perusahaan ingim berusaha sedapat mungkin menjaga kestabilan jumlah dividennya.

Penilaian Stabilitas Dividen

  • Muatan Informasi. Jika laba perusahaan menurun namun perusahaan tidak mengurangi dividennya, pasar akan memiliki kepercayaan yang lebih tinggi terhadap saham. Dividen stabil berpandangan bahwa masa depan perusahaaan lebih baik daripada yang direfleksikan oleh penurunan laba. Maka manajemen dapat mempengaruhi harapan investor melalui informasi yang terkandung pada dividen.
  • Keinginan Memperoleh Penghasilan saat ini. Walaupun investor dapat menjual sebagian saham biasa mereka untuk memperoleh penghasilan pada saat dividen tidak mencukupi saat ini, banyak investor enggan memakai uang pokok. Mereka sadar penghasilan menempatkan nilai yang lebih tinggi bagi dividen stabil.
  • Pertimbangan-pertimbangan Kelembagaan. Dividen stabil mungkin menguntungkan dari sudut pandang hukum karena mengizinkan beberapa investor kelembagaan tertentu untuk membeli saham biasa.

MENETAPKAN KEBIJAKAN DIVIDEN DALAM PRAKTIK

Model Dividen Residua
 
Yaitu suatu model di mana dividen yang dibayarkan ditetapakan sama dengan laba actual dikurangi dengan jumlah laba yang perlu ditahan untuk membiayai anggaran modal perusahaan yang optimal. 
Bagi perusahaan tertentu, rasio pembayaran yang optimal merupakan fungsi dari empat factor:
a)    Pilihan investasi atas dividen lawan keuntungan modal
b)    Peluang investasi perusahaaan
c)    Struktur modal yang ditargetkan
d)    Ketersediaan dan biaya dari modal eksternal.

Ketiga elemen terakhir merupakan model dividen residual. Dalam model ini, ketika mengambil keputusan atas rasio pembagian yang ditargetkan, suatu perusahaan mengikuti empat langkah:
  i.    Menentukan anggaran modal yang optimal,
 ii.    Menentukan jumlah sekuritas yang dibutuhkan untuk membiayai anggaran tersebut, sesuai dengan struktur modal yang ditargetkan,
iii.    Sedapat mungkin menggunakan laba ditahan untuk memenuhi kebutuhan ekuitas,
iv.    Membayar dividen hanya jika lebih banyak laba yang tersedia daripada yang dibutuhkan untuk mendukung anggaran modal yang optimal.

Laba, Arus Kas, dan Dividen
 
Dividen jelas lebih tergantung apda arus kas, yang mencerminkan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, dibanding pada laba, yang sangat dipengaruhi oleh praktek akuntansi serta hal-hal lain yang tidak mencerminkan kemampuan untuk membayar dividen.

Prosedur Pembayaran Dividen

  1. Tanggal Pengumuman, yaitu tanggal pada saat direksi perusahaan mengeluarkan pernyataan berisi pengumuman pembagian dividen.
  2. Tanggal Pencatatan Pemegang Saham, yaitu jika perusahaan mencatat seorang pemegang saham sebagai pemilik pada tanggal ini, pemegang saham tersebut berhak menerima dividen.
  3. Tanggal Pemisahan Dividen, yaitgu tanggal saat dividen dipisahkan dari saham.
  4. Tanggal Pembayaran, yaitu tanggal pada saat perusahaan benar-benar mengirimkan cek dividen.
Pola Pembayaran Dividen
  1. Jumlah dollar stabil per saham. Kebijakan untuk membayar jumlah dollar stabil per saham, yang disebut Kebijakan Dividen Stabil.
  2. Rasio pembayaran dividen. Kebijakan ini tidak akan memaksimumkan nilai saham, karena pasar tidak dapat mengandalkan kebijakan ini untuk memberi informasi mengenai prospek perusahaan pada masa mendatang dan karena kebijakan ini mempengaruhi investasi.
  3. Dividen-Tetap-yang-Rendah-Ditambah_Ekstra Yaitu suatu kebijakan yang mengumumkan dividen tetap yang rendah yang dapat dipertahankan dalam keadaan pada masa cerah membayar dividen “ekstra” yang telah ditentukan.

MENGUBAH KEBIJAKAN DIVIDEN

Kebijkan dividen dapat diubah, namun dapat menimbulkan masalah karena dapat mengganggu pemegang saham perusahaan, mengirimkan isyarat yang tidak diinginkan, dan menyampaikan pesan ketidakstabilan dividen, yang semuanya dapat mempunyai implikasi negative pada harga saham.

RENCANA REINVESTASI DIVIDEN (DRP)
Yaitu suatu rencana yang memungkinkan pemegang saham untuk secara otomatis menginvestasikan kembali dividennya dalam bentuk saham perusahaan yang membayarkan.




Ada dua jenis DRP
  1. DRP yang melibatkan “saham lama, apabila pemegang saham memilih reinvestasi, suatu bank, yang bertindak selaku perwalian, mengambil seluruh dana yang tersedia untuk diinvestasikan kembali, membeli saham perusahaan di pasar terbuka, dan mengalokasikan saham yang dibeli ke rekening pemegang saham yang ikut serta atas dasar pro rata.
  2. DRP yang melibatkan “saham baru”, menyediakan dividen untuk diinvestasikan di dalam penerbitan saham baru, karenanya rencana ini menambah modal baru bagi perusahaan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN DIVIDEN

Factor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen :

  • Undang-undang
Undang-undang menetapkan bahwa dividen harus dibayar dari laba, baik laba tahun berjalan maupun laba tahun lalu yang ada di pos “laba ditahan” di neraca. Peraturan pemerintah menekankan tiga hal :
  1. Peraturan laba bersih. Menyatakan bahwa dividen dapat dibayar dari laba saat ini atau tahun lalu.
  2. Larangan pengurangan modal, melindungi pemberi kredit karena adanya larangan untuk membayar dividen dengan mengurangi modal (membayar dividen dengan modal akan berarti membagi modal suatu perusahaan bukan membagikan laba).
  3. Peraturan kepailitan, menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat membayar dividen pada saat pailit.( kepailitan terjadi karena kewajiban lebih besar daripada aktiva, membayar dividen pada saat ini akan berarti memberi dana kepada pemegang saham yang sebenarnya milik pemberi kedit).
  • Posisi Likuidita
Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang dibutuhkan dalam menjalankan usaha. Laba ditahan tahun-tahun lalu sudah diinvestasikan dalam bentuk aktiva dan tidak disimpan dalam bentuk kas. Jadi meskipun suatu perusahaan mempunyai catatan mengenai laba, perusahaan mungkin tidak dapat membayar tunai dividen karena posisi likuiditasnya.
  
  • Pembatasan dalam Perjanjian Hutang
Perjanjian hutang, khususnya apabila merupakan hutang jangka panjang seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen tunai. Larangan dibuat untuk melindungi kedudukan pemberi pinjaman, biasa menyatakan bahwa:
Ø  Dividen di masa datang hanya dapat dibayar dari laba yang diperoleh sesudah penandatanganan perjanjian hutang, jadi dividen tidak dapat dibayarkan dari laba ditahan tahun-tahun lalu.
Ø  Dividen tidak dapat dibayarkan apabila modal bersih berada di bawah suatu jumlah yang telah ditentukan.
  • Tingkat Ekspansi Aktiva
Semakin cepat sebuah perusahaan berkembang, semakin besar kebutuhan untuk membiayai ekspansinya aktivanya. Bila kebutuhan dana di masa depan semakin besar perusahaan akan cenderung untuk menahan laba daripada membayarkannya. Apabila perusahaan mencari dana luar, maka sumbernya adalah pemegang saham saat itu yang mengetahui keadaan perusahaan. Tetapi jika laba dibayarkan sebagai dividen dan terkena pajak penghasilan pribadi yang tinggi, maka hanya sebagian saja yang tersisa untuk reinvestasi.
  
  •  Tingkat Laba dan Stabilitas Laba
Tingkat hasil pemgembalian yang diharapkan akan menentukan pilihan relatif untuk membayar laba tersebut dalam bentuk dividen kepada pemegang saham atau menggunakannya di perusahaan. Suatu perusahaan yang mempunyai laba stabil seringkali dapat memperkirakan berapa besar laba di masa yang akan datang. Perusahaan seperti ini biasanya cenderung membayarkan laba dengan persentase yang lebih tinggi.
  • Akses ke Pasar Modal
Suatu perusahaan yang besar dan telah berjalan baik, mempunyai catatan profitabilitas dan stabilitas akan mempunyai akses yang mudah ke pasar modal dan mempunyai bentuk lain dari pendanaan. Perusahaan yang sudah mapan akan memberi tingkat pembayaran dividen yang lebih tinggi.
  • Pajak atas Laba yang Diakumulasikan secara Salah
 Untuk mencegah pemegang saham hanya menggunakan perusahaan sebagai suatu “perusahaan penyimpan uang” yang dapat digunakan untuk menghindari tarif penghasilan pribadi yang tinggi, peraturan perpajakan perusahaan menentukan suatu pajak tambahan khusus terhadpa penghasilan yang diakumulasikan secara tidak benar.

Kendala-kendala Pembagian Dividen

a. Kontrak utang. Biasanya membatasi pembagian dividen dari laba yang dihasilkan setelah pinjaman diberikan. Kontrak utang juga seringkali mengisyaratkan bahwa tidak ada dividen yang dapat dibagikan kecuali kalau rasio lancar, rasio kemampuan membayar bunga, dan rasio-rasio pengaman lain melebihi batas minimum yang ditetapakan.
b.  Pembatasan saham preferen. Biasanya, dividen saham biasa tidak dapat dibayarkan jika perusahaan belum mambayarkan dividen untuk saham peferennya. Dividen saham preferen yang tertunggak harus dilunasi sebelum dividen saham biasa dibayarkan.
c.  Ketidakcukupan laba. Pembayaran dividen tidak boleh melebihi “laba yang ditahan” pada pos neraca.
d. Ketersediaan kas. Dividen tunai dapat dibagikan hanya dengan uang kas. Jadi, kekurangan kas di bank dapat membatasi pembagian dividen. Akan tetapi, hal itu bias diatasi apabila perusahaan memperoleh pinjaman.
e.  Denda pajak atas penahanan laba yang tidak wajar. Untuk mencegah agar orang kaya tiak menggunakan perusahaan untuk menghindari pajak pribadi, peraturan pajak membuat ketentuan khusus mengenai penimbunan penghasilan yang tidak wajar. Jadi, apabila direktorat pajak dapat menunjukan bahwa rasio pembayaran dividen perusahaan sengaja dibuat rendah untuk menolong para pemegang saham menghindari pajak pribadi, perusahaan tersebut akan dikenakan denda yang berat.

Peluang Investasi

a. Letak dari daftar IOS. Semakin ke kanan, cenderung menghasilkan target rasio pembayaran dividen yang rendah, dan sebaliknya.
b. Kemungkinan untuk mempercepat atau menunda proyek. Kemampuan ini akan memungkinkan perusahaan untuk lebih konsisten dengan kebijakan dividen yang stabil.

Sumber-sumber Modal Lainnya

a. Biaya penjualan saham baru. Bila ingin membiayai sejumlah investasi tertentu, perusahaan dapat memperoleh ekuitas dengan menahan laba atau dengan menjual saham biasa yang baru. Jika biaya pengambangan tinggi, ke pun akan menjadi lebih tinggi daripada ks, sehingga perusahaan itu lebih baik menetapkan rasio pembagian dividen yang rendah serta melakukan pembiayaan melalui penahanan laba, bukan melalui penjualan tambahan saham biasa.

b.  Kemampuan untuk mensubtitusi ekuitas dengan utang. Suatu perusahaan dapat membiayai sejumlah investasi tertentu baik dengan utang ataupun ekuitas. Biaya pengambangan saham yang rendah memungkinkan kebijakan dividen yang lebih fleksibel karena ekuitas dapat ditingkatkan baik dengan menahan laba ataupaun dengan menjual saham baru. Begitu pun pada kebijakan utang: jika perusahaan dapat menyesuaikan rasio utangnya tanpa menaikkan biaya mencolok, perusahaan itu dapat mempertahankan dividen tunai yang konstan, sekalipun labanya berfluktuasi, dengan menggunakan rasio utang variabel.

c. Pengendalian. Apabila manajemen peduli akan usaha pengendalian, menejemen mungkin enggan untuk menjual saham baru, sehingga perusahaan mungkin akan menahan lebih banyak laba. Tetapi, jika pemegang saham menginginkan dividen yang lebih tinggi dan terdapat tekanan sejumlah pemegang saham untuk mengambil alih kekuasaan perusahaan, dividen akan dinaikkan.

Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap K­s

 Ditinjau dari empat faktor
  1. keinginan pemegang saham untuk mendapatkan penghasilan sekarang dibanding penghasilan yang akan dating,
  2. tingkat resiko dari dividen dibanding keuntungan modal,
  3. manfaat pajak dari keuntungan modal dibanding dividen,
  4. informasi yang terkandung dalam dividen.
KEPUTUSAN KEBIJAKAN DIVIDEN

Alasan mendasar untuk keputusan dividen yang diambil bersama adalah ketidaksamaan informasi, yang mempengaruhi tindakan-tindakan menejemen dengan dua cara :
  1.  Secara umum, manajer tidak ingin menerbitkan saham biasa yang baru. Pertama, saham baru melibatkan biaya penerbitan, yaitu komisi, fee, dan biaya-biaya tersebut dapat dihindari dengan menggunakan laba ditahan untuk membiayai kebutuhan likuiditas perusahaan. Ketidaksamaan informasi mengakibatkan investor memandang emisi baru saham biasa sebagai isyarat negative sehingga menurunkan pengharapan investor mengenai prospek perusahaan di masa depan. Manajer lebih menyukai menggunakan laba ditahan sebagai sumber utama ekuitas baru.
  2. Perubahan dividen memberikan isyarat tentang keyakinan manajer dan juga prospek perusahaan di masa depan. Jadi, pengurangan dividen umumnya mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap harga saham perusahaan. Sehingga manajer menetapkan dividen tunai lebih rendah agar memperkecil kemungkinan dividen harus dikurangi di masa depan.
Secara umun, perusahaan dengan peluang investasi yang unggul sebaiknya menetapkan rasio pembayaran yang lebih rendah, yang berarti menahan lebih banyak laba, daripada perusahaan dengan peluang investasi yang lemah. Tingkat ketidakpastian juga mempengaruhi keputusan. Jika ada ketidakpastian yang besar dalam ramalan arus kas bebas (free cash flow), yang didefinisikan disini sebagai arus kas operasi perusahaan dikurangi investasi ekuitas yang diwajibkan, maka yang terbaik adalah bersikap konservatif dan menetapkan dividen tunai di masa berjalan yang rendah.
 



DIVIDEN SAHAM DAN PEMECAHAN SAHAM

Pemecahan Saham (Stock Split)

Yaitu tindakan suatu perusahaan untuk menambah jumlah saham yang beredar, seperti menggandakan jumlah saham yang beredar dengan memberikan kepada setiap pemegang saham dua lembar saham baru untuk satu saham yang sebelumnya dipegang.

Dividen Saham (Stock Dividen)

yaitu dividen yang dibayarkan dalam bentuk tambahan saham, bukan dalam bentuk uang tunai. Jika perusahaan ingin menurunkan harga saham, sebaiknya melakukan pemecahan saham atau dividen saham? Pemecahan saham biasanya digunakan untuk menurunkan harga secara besar-besaran setelah saham mengalami kenaikan tajam. Sedang dividen saham biasa diberikan secara teratur setiap tahun untuk menjaga kestabilan harga saham.

Pengaruh Harga

Apabila sebuah perusahaan memecah sahamnya atau mengumumkan dividen saham, apakah ini akan meningkatkan nilai pasar dari sahamnya?
  • Secara rata-rata, harga saham akan naik tidak lama setelah perusahaan mengumumkan pemecahan saham atau dividen.
  • Kenaikan harga yang berkaitan dengan pemecahan saham/ dividen mungkin merupakan akibat dari isyarat prospek yang menguntungkan untuk laba dan dividen, bukan keinginan untuk pemecahan saham/ dividen semata.
  • Jika suatu perusahaan mengumumkan suatu pemecahan atau dividen saham, harga sahamnya akan cenderung naik. Namun jika dalam waktu beberapa bulan mendatang perusahaan tidak mengumumkan kenaikan laba atau dividen, harga sahamnya akan turun ke tingkat semula.
  • Komisi pialang dalam satuan persentase umumnya lebih tinggi pada saham yang berharga rendah. Ini berarti memperdagangkan saham yang berharga lebih rendah akan lebih mahal daripada yang berharga tinggi, dan artinya pemecahan saham dapat mengurangi likuiditas suatu perusahaan.
PEMBELIAN KEMBALI SAHAM (Stock Repurchase)

Yaitu suatu transaksi di mana suatu perusahaan membeli kembali sebagian dari sahamnya sendiri, sehingga mengurangi jumlah saham yang beredar, menaikkan laba per saham (EPS), dan menaikkan harga saham tersebut.

Dua jenis pembelian kembali saham :
  1. situasi di mana perusahaan mempunyai persediaan uang kas untuk dibagikan kepada para pemegang sahamnya, dan perusahaan itu mendistribusikan uang kas tersebut dengan membeli kembali saham, bukan dengan membayar dividen tunai;
  2. situasi di mana perusahaan menyimpulkan bahwa struktur modalnya terlalu banyak dibebani dengan ekuitas, sehingga perusahaan melakukan pinjaman untuk membeli kembali sahamnya. 
Perusahaan dapat membeli kembali saham melalui dua cara: yaitu melalui pasar terbuka dan penawaran tender. Pembelian melalui pasar terbuka biasanya merupakan program yang secara bertahap membeli kembali saham dalam periode tertentu. Dalam penawaran tender, perusahaan biasanya menentukan jumlah saham yang hendak dibelinya kembali, harga tender, dan jangka waktu penawaran ini berlangsung.
Dalam penawaran tender terdapat lima hipotesis :
  1. Hipotesis Informasi atau Isyarat. Pembayaran tunai kepada pemegang saham dalam penawaran tender dapat diartikan sebagai suatu tanda bahwa perusahaan mengharapkan akan memperoleh peningkatan arus kas pada masa mendatang, tetapi juga dapat berarti bahwa perusahaan tidak memperoleh kesempatan investasi yang menguntungkan lagi.
  2. Hipotesis Leverage. Jika pembelian kembali saham itu dibiayai dengan mengeluarkan surat hutang daripada pembayaran tunai, maka leverage perusahaan akan naik. Dan jika ada keuntungan dari leverage maka pemegang saham akan untung.
  3. Hipotesis Penghindaran Pajak Dividen. Tender untuk pembelian kembali saham akan terkena pajak keuntungan modal dan bukan pajak dividen jika distribusinya “tidak sama sengan pembayaran dividen”.
  4. Hipotesis Pengambilalihan Pemegang Obligasi. Jika pembelian kembali ini secara tak terduga mengurangi aktiva pokok perusahaan, maka pemegang obligasi akan berada dalam posisi buruk karena jaminan yang dimilikinya mengecil.
  5. Pemindahan Kekayaan antar Pemegang Saham. Memungkinkan akan timbul bila ada macam-macam pembatas atau biaya di antara kelompok pemilik.
Keuntungan Pembelian Kembali Saham

  • Pengumuman pembelian kembali dipandang sebagai hal positif oleh investor karena pembelian kembali itu seringkali didorong oleh keyakinan menejemen bahwa harga saham perusahaan terlalu rendah.
  • Para pemegang saham yang membutuhkan uang tunai dapat menjual kembali beberapa sahamnya, sedang yang tidak, dapat menahan semuanya.
  • Dapat menghilangkan sejumlah blok saham yang besar yang merintangi pasar dan menekan harga per saham.
  • Dividen tidak dapat dinaikkan dalam jangka pendek karena menejemen tidak suka memotong dividen tunai karena dapat memberikan sinyal negative dari pemotongan itu. 
  • Rasio pembagian dividen akan relative rendah, tetapi dividen itu sendiri akan relative aman dan tumbuh sebagai hasil dari penurunan jumlah saham yang beredar. Perusahaan mempunyai fleksibilitas lebih banyak dalam menyesuaikan total distrbusi karena pembelian kembali saham dapat diubah dari tahun ke tahun tanpa memberikan isyarat yang buruk.
  • Pembelian kembali dapat digunakan untuk merombak struktur modal.
 Kerugian Pembelian Kembali Saham

a.  Kenaikan harga saham lebih banyak bersumber dari dividen tunai daripada pembelian kembali.
b.  Pemegang saham yang menjual saham mungkin tidak menyadari semua implikasi dari pembelian kembali saham, atau mereka mungkin tidak mendapatkan semua informasi mengenai kegiatan perusahaan sekarang dan di masa datang.
Perusahaan mungkin membayar harga yang terlalu mahal atas saham yang dibeli kembali sehingga merugikan pemegang saham yang tersisa.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;