Pages

17 Mei 2013

BERSYUKUR DENGAN YANG SEDIKIT


Allah Swt Berfirman.” Dan ( ingatlah juga ), tatkala tuhanmu memaklumkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” ( Qs Ibrahin-7 ). Setiap umat Islam bagaimanapun harus membiasakan untuk selalu bersyukur atas rezki dan anugerah Allah walaupun sedikit dan apa adanya. Nikmat Allah itu sangatlah banyak, mulai dari nikmat kesehatan jasmani, pikiran yang sehat dan cerdas, pangkat dan jabatan yang diperoleh dsb. Namun, menurut perspektif Islam nikmat Allah yang paling tinggi dan mulia kedudukannya adalah nikmat Islam dan Iman yang meliputi keselamatan lahir maupun bathin dari para pemeluknya.

Pernahkah kita memikirkan sudah berapa banyak nikmat udara yang kita pergunakan untuk bernafas yang telah kita terima dari Allah secara cuma-cuma, sejak dalam kandungan sampai detik ini ?. Belum termasuk nikmat-nikmat Allah yang lainnya. Memang dari sudut pandang agama kita menghitung-hitung nikmat Allah itu tidaklah diharamkan, namun selalu mensyukuri nikmat-nikmat tersebut merupakan keharusan mutlak yang harus selalu menghiasi hati dan pikiran dari umat manusia khususnya umat Islam. Itulah Islam dengan kesempurnaanya akan terus membimbing umatnya untuk terus mencari manfaat dari setiap pemberian Allah.


Namun, Al Quran menjelaskan akan keadaan dari tabiat manusia yang sesungguhnya yaitu ingkar dan zalim.” Dan Dia telah memberikan kepadamu ( keperluanmu ) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari ( nikmat Allah ).” ( Qs Ibrahin-34 ).

Firman Allah diatas jelas mengindikasikan akan tabiat dan sifat asli dari manusia itu yang telah lari dari fitrahnya. Dimana saja berada kalau kesulitan, kesusahan sampai pada ancaman sedang berpihak pada dirinya, maka secara spontan akan memohon pada Allah ( doa ). Tapi setelah semua kesusahan, kesulitan atau ancaman itu disirnakan Allah, maka dengan gampang pula manusia itu lupa dan berpaling dari seruan-Nya terlena oleh hawa nafsu setan keduniawian yang matrelialistis.

Padahal banyak ayat Al Quran yang memberi penegasan bahwa setan itu akan selalu menghalangi dari berbuat baik.” Dan sungguh ( setan itu ) menghalagi mereka dari jalan yang benar sedang mereka mengira bahwa mereka memperoleh bimbingan.” ( Qs Az Zukhruf-37 ). Itulah manusia suka mengesampingkan rasa syukurnya dikala memikirkan sesuatu yang sebenarnya masih ngambang dan angan-angan, mereka mudah dipermainkan setan sehingga nikmat dan rahmat Allah yang sudah dirasakan sebelumnyapun sering kali terlupakan.

Begitulah keadaan manusia pada saat ini dan sudah menjadi gejala umum, padahal sebenarnya manusia, selalu berada dalam lingkaran kenikmatan yang tak terhingga serta selalu mendapatkan kesempurnaan akal pikiran, namun sering kali dari kebanyakan manusia itu sendiri enggan untuk bersyukur apalagi dapat nikmat dalam jumlah sedikit dan bersikap Sa’uzzan ( negatif thinking ) pada Allah dan pada manusia nauzubillah.

Seharusnya setiap diri wajib mensyukuri nikmat Allah yang sudah sejak dulu diberikan-Nya, bukankah kita masih punya makanan dan minuman enak untuk dimakan, sementara diluar sana masih banyak dari saudara-saudara kita yang tidak bisa sama sekali menikmati hal itu ?, Entah karena sakit yang mendera atau karena memang karena ketiadaan dsb.

Begitu juga nikmat kesehatan dan kesempatan yang kita terima selama ini, waktu yang tenang dan nyaman untuk beraktifitas, serta kesempatan waktu, sarana dan prasarana untuk lebih memperhatian keluarga, sanak-saudara dilingkungan kita masing-masing. Lalu, kenapa masih ada dari kita yang masih merasa kekurangan dan selalu berkeluh-kesah ?. “ Fabiai allai rabbikuma tukaziban.” Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? “ ( Qs Ar Rahman-13 ).

Allah Swt menciptakan alam semesta bumi, langit, lautan beserta isinya telah menjadi bukti nyata bahwa Allah itu memang maha kuasa untuk terus mengalirkan rahmat dan hidayah-Nya bagi makhluk hidup khususnya pada umat manusia. Namun, untuk mendapatkan nikmat Allah tersebut setiap diri dituntut untuk memaksimalkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk seterusnya disyukuri melalui amal ibadah dan ketaatan yang ikhlas.

Berfirman Allah didalam Qs Al Jasiyah ayat 12-13.” Allahlah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi semuanya ( sebagai rahmat ) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. ”

Allah Swt memerintahkan umat Islam untuk selalu menanamkan sifat syukur atas segala pemberian yang telah dilimpahkan-Nya. Syukur tidak sebatas dimulut saja, setelah mendapat nikmat yang banyak atau sedikit lalu mengucapkan Alhamdulillahirabbilalamin dan setelah itu mempergunakan nikmat itu sekehendak hati, berfoya-foya, hura-hura, berlaku boros dan aniaya, sombong, terlalu bangga dsb.

Bukan seperti ini cara bersyukur yang diajarkan Islam pada umatnya, melainkan bagaimana setiap diri apabila mendapat keberuntungan dan bisa mempergunakannya pada hal-hal yang diperintahkan-Nya sehingga keberkahan dari pemberian-Nya tersebut akan membimbing kita untuk berlaku terpuji. Seperti mempergunakan sebagian untuk kepentingan bersama, bersedekah, membantu fakir miskin, anak-anak terlantar yang sampai hari ini masih banyak berkeliaran disudut-sudut kota negeri yang katanya kaya-raya ini.

Sedangkan amal ibadah untuk diri sendiripun harus selalu ditingkatkan, kalau setiap diri dari umat Islam yang dilimpahkan rizki berlebih oleh Allah berprilaku terpuji seperti ini pastilah segala bentuk tragedi kemiskinan yang terjadi baru-baru ini dapat dielakan. Namun apa realitanya, sampai detik ini kita masih sulit keluar dari lingkaran kemiskinan, kapankah Allah akan menurunkan hidayah dan menjauhkan siksa-Nya bagi negeri ini?. Mungkinkah rasa syukur dari umat manusia sudah sirna? “ Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman.” ( Qs An Nisa-147 ).

Nikmat Allah yang dilimpahkan pada diri kita khususnya sudah tidak terhitung lagi jumlah maupun valuenya dan manusia pun tidak akan sanggup menghitungnya. Pada hakikatnya nikmat Allah itu ada yang diberikan sebelum seorang hamba memohon ( doa ), dan ada pula harus didahului dengan permohonan dan usaha sungguh-sungguh. Begitu juga nikmat dunia akan diberikan pada semua orang, baik yang beriman maupun pada yang ingkar, lalai, munafik dsb, hal ini menandakan Allah itu bersifat Rahman ( maha Pemurah ).

Sedangkan nikmat agama ( akhirat ) hanya diberi dan dilimpahkan khusus pada orang-orang yang taat dan beriman saja, dan hal ini sangat jelas menandakan bahwa Allah itu bersifat Rahim ( Maha pengasih ). Inilah bedanya antara Ar Rahman ( umum ) dan Ar Rahim ( khusus ).

Dalam hal ini Allah memang pilih kasih, hanya memberikan nikmat dunia plus akhirat hanya kepada hamba-hamba-Nya yang selalu taat, patuh dan beriman. Sedangkan sebagai bukti kemaha Rahmanan Allah, seburuk apapun sikap dan prilaku seseorang, tetap akan mendapat Ar Rahman-Nya. Namun, seribu kali sayang mereka-mereka yang tetap ingkar sampai detik ini tidak pernah mau memikirkan akan kemahakuasaan dan kemahamurahan Allah Swt melalui ajaran Islam yang sesungguhnya, bahkan dari umat Islam sendiripun sinyalemen keingkaran, kemunafikan, kesombongan kini semakin terkuak.

Tiada lain mari kita sama-sama memikirkan dan merenungkan sembari bermuhasabah kedalam diri masing-masing, untuk lebih kuat lagi merealisasikan rasa syukur atas nikmat yang telah kita terima dari yang maha memberi. Jangan diri kita termasuk kedalam golongan yang selalu ingkar dan kufur terhadap nikmat tersebut sedangkan petunjuk untuk itu sudah kita ketahui. Dan mari kita tanamkan rasa syukur pada Allah atas nikmat-Nya walaupun sedikit, bersyukur dengan yang sedikit akan memberikan kepuasan bathin yang tak terhingga. Allah Hu A’llam.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;