Belum sah pergi ke Tanjungpinang, jika tidak singgah ke Pulau Penyengat.
Belum sah bagi umat Islam yang sudah ke Tanjungpinang, jika belum
menyempatkan diri untuk singgah dan sholat di Masjid Raya Sultan Riau di
Pulau Penyengat".
Itulah beberapa ungkapan sebagian warga Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), kepada tamu dari dalam maupun luar negeri.
Pulau
Penyengat terletak di bagian barat. Pulau itu bersama bangunan kuning
masjidnya sudah tampak dari pinggir laut Kota Tanjungpinang.
Penyengat
dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dengan menggunakan pompong atau
sampan kapal motor kecil dari pelantar dermaga kecil di sebelah
Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, pengunjung sudah bisa sampai ke pulau
yang menyimpan sejarah kebesaran Kerajaan Riau-Lingga pada abad ke-18 di
ibu kota Provinsi Kepri itu.
Pages
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Deretan pulau di Kepulauan Riau (Kepri) tidak hanya menyimpan keindahan
alam, tapi juga peninggalan-peninggalan bersejarah. Jejak-jejak
penyebaran agama masih berbekas di jalur persinggahan internasional itu.
Masjid, vihara, klenteng, dan patung Bunda Maria, masih dapat
disaksikan. Kepulauan Riau memang belum lama memisahkan diri dari Riau
daratan, tapi peradaban di deretan pulau itu sudah ada sejak lama.
Lokasi yang strategis menjadikannya tempat persinggahan.
Salah satu pulau yang menyimpan banyak peninggalan adalah Pulau Penyengat. Dahulunya pulau ini adalah pusat Kerajaan Riau, sampai akhirnya ditutup oleh Belanda pada awal abad 20. Di pulau ini, ada makam Haji Ali Raja, si pencipta Gurindam 12 yang tersohor. Ia juga bapak pahlawan Bahasa Indonesia. Pulau Penyengat sebenarnya sebuah pulau kecil yang hanya memiliki luas tiga kilometer persegi. Pulau berjarak sekitar enam kilometer atau sekitar 20 menit perjalanan laut dari Tanjung Pinang menggunakan perahu pompong (perahu kecil). Atau jika ditempuh dari Batam memakan waktu sekitar satu jam lebih menggunakan spead boat atau kapal fery.
Salah satu pulau yang menyimpan banyak peninggalan adalah Pulau Penyengat. Dahulunya pulau ini adalah pusat Kerajaan Riau, sampai akhirnya ditutup oleh Belanda pada awal abad 20. Di pulau ini, ada makam Haji Ali Raja, si pencipta Gurindam 12 yang tersohor. Ia juga bapak pahlawan Bahasa Indonesia. Pulau Penyengat sebenarnya sebuah pulau kecil yang hanya memiliki luas tiga kilometer persegi. Pulau berjarak sekitar enam kilometer atau sekitar 20 menit perjalanan laut dari Tanjung Pinang menggunakan perahu pompong (perahu kecil). Atau jika ditempuh dari Batam memakan waktu sekitar satu jam lebih menggunakan spead boat atau kapal fery.
Menurut Sejarah Melayu (Salalatus Salatin) yang disusun dari pada naskah
naskah lama pada tahun 1612 oleh Bendahara Tun Seri Lanang dari pada
Empayer Kerajaan Johor, perkataan Melayu berasal daripada Sungai Melayu
yang terdapat di Batang Hari River di Muara Jambi, sekarang ini merupakan
wilayah Jambi di Sumatra, Indonesia. Perkataan Melayu juga di jumpai
tertulis pada ‘batu bertulis’ bertarikh tahun 1286 yang di jumpai Padang
Rocore, dimuara sungai. Kerajaan Melayu lama yang mempunyai kekuasaan
yang besar di kenal sebagai kerajaan Sri Wijaya yang memerintah pada
sekitar tahun 500 hingga 1025 yang berpusat di Palembang dan mempunyai
jajahan yang luas meliputi Sumatera, Jambi, dan seluruh
Semenanjung Tanah Melayu hingga ke Kedah. Menurut kajian sejarah
(archaeological) Jambi, banyak artifak artifak lama dan reka bentu lama
telah dijumpai dan dirakamkan dalam bentu gambar sebagai bahan bukti.
Pada
tahun 1718, Raja Kecik daripada kerajaa Siak, yang mendakwa dirinya
sebagai putera Almarhum Sultan Mahmud Shah yang mangkat pada tahun1699,
telah menyerang dan menguasai kerajaan Johor. Setahun kemudian, Raja
Kecik telah berpindah keRiau (Bintan) dan memerintah kerajaan Johor
daripada pusat pemerintahan baru diRiau. Setelah tiga tahun kemudian,
Raja Sulaiman yakni putera Sultan Abdul Jalil yang telah mangkat
di Pahang, telah berjaya mengalahkan dan menurunkan Raja Kecik dari pada
tahta kerajaan Johor dengan bantuan putera Raja Bugis lima bersaudara.
Raja Sulaiman kemudiannya telah ditabalkan sebagai Sultan dan Yang
Dipertuan Besar dengan gelaran Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah, dan
kerajaan Johor kini dikenali sebagai Kerajaan Johor - Riau. Sultan
Sulaiman kemudiannya telah menabalkan seorang daripada putera Raja Bugis
lima bersaudara iaitu Opu Daeng Merewah yang juga dikenali sebagai
Kelana Jaya Putera untuk menjadi Yang Dipertuan Muda dengan gelaran
Sultan Alauddin Shah, sebagai wakil baginda memerintah kerajaan Johor –
Riau. Tiga tahun kemudian Sultan Sulaiman telah menghantar rombongan
ke Trengganu untuk menabalkan ayah saudara baginda, Tun Zainal Abidin
untuk menjadi Sultan Trengganu bergelar Sultan Zainal Abidin.
10 Januari 2012
E-Book,
Sejarah
0
komentar
SIAPAKAH PARA PEMBUNUH DEWAN JENDERAL PADA PERISTIWA G30S?
Waktu kita dulu masih sekolah di SD, SMP dan SMA
pasti pernah belajar Sejarah Perjuangan Bangsa. Yang paling menarik dari
mata pelajaran tersebut (PSPB) adalah Peristiwa Gerakan 30 September
yang lebih dikenal dengan nama G30S/PKI. Bahkan pada saat itu semua anak
(siswa) diwajibkan menonton film drama G30S/PKI yang biasa diputar di
TVRI pada tanggal 29 September. Tapi terus terang saya belum pernah
nonton secara menyeluruh film tersebut walau setiap tahun sering
diputar. Malah di salah satu SD ada yang mewajibkan nonton film tersebut
yang secara khusus diputar di bioskop.
Tapi apakah anda yakin bahwa yang melakukan
pembunuhan para Dewan Jenderal itu adalah PKI yang notabene partai yang
dekat dengan Ir. Soekarno, apakah mungkin seorang anak kesayangan tega
melakukan pengkhianatan terhadap ayahnya yang sangat menyayangi.
Kesan pertama yang kutangkap saat itu adalah mengapa seseorang yang memangku jabatan di pemerintahan mampu menghasilkan karya sastra yang begitu gemilang. Karya seorang seniman, entah sastrawan, penyanyi atau apapun, didasarkan pada pengamatan, penghayatan bahkan pengalaman dirinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya, selanjutnya dituangkan dalam karya seninya seperti syair, novel, lagu ataupun gurindam. Maka bila seorang pejabat kerajaan mampu menulis gurindam jelaslah bahwa dalam kesehariannya beliau tidak sekedar duduk di singgasana tetapi rajin berinteraksi langsung dengan kehidupan rakyatnya. Suatu sikap pemimpin yang saat ini langka ditemukan.
Dalam kehidupan bangsa Melayu nasihat-nasihat dituangkan secara turun-temurun secara lisan dalam bentuk pantun, madah maupun gurindam. Nasihat tersebut terus diingat dan menjadi pedoman hidup yang terinternalisasi dalam pribadi individu. Barangkali Radja Ali Hadji ingin memberikan nasihat kepada rakyatnya. Ternyata tidak hanya bagi rakyatnya di Kesultanan Riau tetapi lebih luas kepada bangsa Melayu bahkan menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Pada makam beliau di pulau Penyengat Kepulauan Riau tertulis “Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu Indonesia Budayawan Di Gerbang Abad XX” sekaligus beliau sebagai Pahlawan Nasional.
Daik (Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga)
Daik, dahulunya hampir selama seratus tahun menjadi pusat kerajaan
Riau-Lingga, sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Lingga, Kabupaten
Kepulauan Riau.
Kota Daik yang terletak di sungai Daik, hanya dapat dilalui perahu
atau kapal motor di waktu air pasang. Kalau air surut, sungai Daik
mengering dan tak dapat dilalui. Perhubungan lainnya adalah melalui
jalan darat ke desa Resun di sungai Resun. Dari sana melalui sungai itu
terus ke muara (Pancur) yang terletak di pantai utara pulau Lingga,
berseberangan dengan Senayang.
Selama seratus tahun Daik menjadi pusat kerajaan, tentulah terdapat
berbagai peninggalan sejarah dan sebagainya. Raja-raja kerajaan
Riau-Lingga yang memerintah kerajaan selama periode pusat kerajaan di
Daik Lingga yaitu : Sultan Abdurakhman Syah (1812-1832), Sultan Muhammad
Syah (1832-1841), Sultan Mahmud Muzafar Syah (1841-1857), Sultan
Sulalman Badrul Alam Syah II (1857-1883) dan Sultan Abdurrakhman Muazzam
Syah (1883-1911).
Mesjid Jamik Daik
Mesjid Jamik terletak di kampung Darat, Daik Lingga, dibangun pada
masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat Syah (1761-1812) pada masa awal
beliau memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga. Sumber
tempatan menyebutkan bahwa bangunan mesjid ini dimulai sekitar tahun
1803, dimana bangunan aslinya seluruhnya terbuat dari kayu. Kemudian
setelah Mesjid Penyengat selesai dibangun, maka bangunan Mesjid Jamik
ini dirombak dan dibangun lagi dari beton.
Mesjid ini di dalam ruang utamanya tidaklah mempergunakan tiang
penyangga kubah atau lotengnya. Pada mimbarnya terdapat tulisan yang
terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi), berisi : “Muhammad SAW. Pada
1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen membuat mimbar di dalam
negeri Semarang Tammatulkalam.” Tulisan ini memberi petunjuk, bahwa
mimbar yang indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah dengan memasukan
motif-motif ukiran tradisional Melayu.
Makam Engku Putri
Makam Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud ini terletak di pulau
Penyengat Indra Sakti. Pulau Penyengat adalah milik Engku Putri, karena
pulau ini dihadiahkan suaminya Sultan Mahmud Syah sebagai mas kawinnya
sekitar tahun 1801-1802. Selain itu Engku Putri adalah pemegang regalia
kerajaan Riau.
Bangunan makam terbuat dari beton, dikelilingi oleh pagar tembok pada
tempat yang ketinggian. Dahulu atap bangunan makam dibuat
bertingkat-tingkat dengan hiasan yang indah.
Di kompleks ini terdapat pula makam tokoh-tokoh terkemuka kerajaan Riau, seperti makam Raja Haji Abdullah (Marhum Mursyid)
Yang Dipertuan Muda Riau IX, makam raja Ali Haji, pujangga Riau yang
terkenal “Gurindam Dua Belas”, makam Raja Haji Abdullah, makam Mahkamah
Syariah kerajaan Riau-Lingga, makam Tengku Aisyah Putri – Yang Dipertuan
Muda Riau IX, dan kerabat-kerabat Engku Putri yang lain.
Sejarah Riau mencatat bahwa Engku Putri (Raja Hamidah) adalah putri
Raja Syahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang – Yang Dipertuan Muda
Riau IV – yang termashur sebagai pahlawan Riau dalam menentang
penjajahan Belanda. Sebagai putri tokoh ternama, Engku Putri besar
peranannya dalam pemerintahan kerajaan Riau, sebab selain memegang
regalia (alat-alat kebesaran kerajaan) beliau adalah permaisuri Sultan
Mahmud, dan tangan kanan dari Raja Jaafar – Yang Dipertuan Muda Riau VI.
Sebagai pemegang regalia kerajaan, beliau sangatlah menentukan dalam
penabalan sultan, karena penabalan itu haruslah dengan regalia kerajaan.
Engku putri pernah pula melakukan perjalanan ke beberapa daerah lain,
seperti ke Sukadana, Mempawah dan lain-lain untuk mempererat tali
persaudaraan antara kerajaan Riau dengan kerajaan yang dikunjunginya.
Tokoh ternama dari kerajaan Riau ini mangkat di pulau Penyengat bulan Juli tahun 1884.
Mesjid Raya Sultan Riau
Langganan:
Postingan (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact