Pages

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
16 Oktober 2012 0 komentar

Masjid Penyengat Peninggalan Kerajaan Melayu Abad ke-19

Belum sah pergi ke Tanjungpinang, jika tidak singgah ke Pulau Penyengat. Belum sah bagi umat Islam yang sudah ke Tanjungpinang, jika belum menyempatkan diri untuk singgah dan sholat di Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat".
   
Itulah beberapa ungkapan sebagian warga Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), kepada tamu dari dalam maupun luar negeri.
   
Pulau Penyengat terletak di bagian barat. Pulau itu bersama bangunan kuning masjidnya sudah tampak dari pinggir laut Kota Tanjungpinang.

Penyengat dapat ditempuh lebih kurang 15 menit dengan menggunakan pompong atau sampan kapal motor kecil dari pelantar dermaga kecil di sebelah Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura, pengunjung sudah bisa sampai ke pulau yang menyimpan sejarah kebesaran Kerajaan Riau-Lingga pada abad ke-18 di ibu kota Provinsi Kepri itu.
   
0 komentar

Jejak-jejak Religius di Persinggahan Kepulauan Riau

Deretan pulau di Kepulauan Riau (Kepri) tidak hanya menyimpan keindahan alam, tapi juga peninggalan-peninggalan bersejarah. Jejak-jejak penyebaran agama masih berbekas di jalur persinggahan internasional itu. Masjid, vihara, klenteng, dan patung Bunda Maria, masih dapat disaksikan. Kepulauan Riau memang belum lama memisahkan diri dari Riau daratan, tapi peradaban di deretan pulau itu sudah ada sejak lama. Lokasi yang strategis menjadikannya tempat persinggahan.

Salah satu pulau yang menyimpan banyak peninggalan adalah Pulau Penyengat. Dahulunya pulau ini adalah pusat Kerajaan Riau, sampai akhirnya ditutup oleh Belanda pada awal abad 20. Di pulau ini, ada makam Haji Ali Raja, si pencipta Gurindam 12 yang tersohor. Ia juga bapak pahlawan Bahasa Indonesia. Pulau Penyengat sebenarnya sebuah pulau kecil yang hanya memiliki luas tiga kilometer persegi. Pulau berjarak sekitar enam kilometer atau sekitar 20 menit perjalanan laut dari Tanjung Pinang menggunakan perahu pompong (perahu kecil). Atau jika ditempuh dari Batam memakan waktu sekitar satu jam lebih menggunakan spead boat atau kapal fery.

11 Maret 2012 0 komentar

Sejarah Kerajaan Melayu

Menurut  Sejarah Melayu (Salalatus Salatin) yang disusun dari pada naskah naskah lama pada tahun 1612 oleh Bendahara Tun Seri Lanang dari pada Empayer Kerajaan Johor, perkataan Melayu berasal daripada Sungai Melayu yang terdapat di Batang Hari River di Muara Jambi, sekarang ini merupakan wilayah Jambi di Sumatra, Indonesia. Perkataan Melayu juga di jumpai tertulis pada ‘batu bertulis’ bertarikh tahun 1286 yang di jumpai Padang Rocore, dimuara sungai. Kerajaan Melayu lama yang mempunyai kekuasaan yang besar di kenal sebagai kerajaan Sri Wijaya yang memerintah pada sekitar tahun 500 hingga 1025 yang berpusat di Palembang dan mempunyai jajahan yang luas meliputi Sumatera, Jambi, dan seluruh Semenanjung Tanah Melayu hingga ke Kedah. Menurut kajian sejarah (archaeological) Jambi, banyak artifak artifak lama dan reka bentu lama telah dijumpai dan dirakamkan dalam bentu gambar sebagai bahan bukti.


0 komentar

Kerajaan Johor – Riau

Pada tahun 1718, Raja Kecik daripada kerajaa Siak, yang mendakwa dirinya sebagai putera Almarhum Sultan Mahmud Shah yang mangkat pada tahun1699, telah menyerang dan menguasai kerajaan Johor. Setahun kemudian, Raja Kecik telah berpindah keRiau (Bintan) dan memerintah kerajaan Johor daripada pusat pemerintahan baru diRiau. Setelah tiga tahun kemudian, Raja Sulaiman yakni putera Sultan Abdul Jalil yang telah mangkat di Pahang, telah berjaya mengalahkan dan menurunkan Raja Kecik dari pada tahta kerajaan Johor dengan bantuan putera Raja Bugis lima bersaudara. Raja Sulaiman kemudiannya telah ditabalkan sebagai Sultan dan Yang Dipertuan Besar dengan gelaran Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah, dan kerajaan Johor kini dikenali sebagai Kerajaan Johor - Riau. Sultan Sulaiman kemudiannya telah menabalkan seorang daripada putera Raja Bugis lima bersaudara iaitu Opu Daeng Merewah yang juga dikenali sebagai Kelana Jaya Putera untuk menjadi Yang Dipertuan Muda dengan gelaran Sultan Alauddin Shah, sebagai wakil baginda memerintah kerajaan Johor – Riau. Tiga tahun kemudian Sultan Sulaiman telah menghantar rombongan ke Trengganu untuk menabalkan ayah saudara baginda, Tun Zainal Abidin untuk menjadi Sultan Trengganu bergelar Sultan Zainal Abidin.
10 Januari 2012 0 komentar

SIAPAKAH PARA PEMBUNUH DEWAN JENDERAL PADA PERISTIWA G30S?

Waktu kita dulu masih sekolah di SD, SMP dan SMA pasti pernah belajar Sejarah Perjuangan Bangsa. Yang paling menarik dari mata pelajaran tersebut (PSPB) adalah Peristiwa Gerakan 30 September yang lebih dikenal dengan nama G30S/PKI. Bahkan pada saat itu semua anak (siswa) diwajibkan menonton film drama G30S/PKI yang biasa diputar di TVRI pada tanggal 29 September. Tapi terus terang saya belum pernah nonton secara menyeluruh film tersebut walau setiap tahun sering diputar. Malah di salah satu SD ada yang mewajibkan nonton film tersebut yang secara khusus diputar di bioskop.

Tapi apakah anda yakin bahwa yang melakukan pembunuhan para Dewan Jenderal itu adalah PKI yang notabene partai yang dekat dengan Ir. Soekarno, apakah mungkin seorang anak kesayangan tega melakukan pengkhianatan terhadap ayahnya yang sangat menyayangi.
0 komentar

INILAH PIDATO "GANYANG MALAYSIA" 27 JULI 1963

Jakarta - Pada 20 Januari 1963, Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Bangsa ini tidak terima dengan tindakan demonstrasi anti-Indonesia yang menginjak-injak lambang negara Indonesia, Garuda.


Untuk balas dendam, Presiden Soekarno melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamirkan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato pada 27 Juli 1963. Berikut isinya:"


09 Januari 2012 0 komentar

GURINDAM DUA BELAS PASAL, SEBUAH NASIHAT ABADI

Nama Raja Ali Haji (1808-1873) kukenal ketika masih duduk di bangku  SMP pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, melalui karya beliau “Gurindam Dua Belas Pasal”. Saat itu aku tidak menemukan bentuk utuh gurindam tersebut. Yang masih kuingat adalah pantun berisi nasihat-nasihat kehidupan yang tersusun dalam dua belas pasal. Sampai aku selesai sekolah bahkan kuliah tetap tidak menemukan gurindam dimaksud.
Kesan pertama yang kutangkap saat itu adalah mengapa seseorang yang memangku jabatan di pemerintahan mampu menghasilkan karya sastra yang begitu gemilang. Karya seorang seniman, entah sastrawan, penyanyi atau apapun, didasarkan pada pengamatan, penghayatan bahkan pengalaman dirinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya, selanjutnya dituangkan dalam karya seninya seperti syair, novel, lagu ataupun gurindam. Maka bila seorang pejabat kerajaan mampu menulis gurindam jelaslah bahwa dalam kesehariannya beliau tidak sekedar duduk di singgasana tetapi rajin berinteraksi langsung dengan kehidupan rakyatnya. Suatu sikap pemimpin yang saat ini langka ditemukan.
Dalam kehidupan bangsa Melayu nasihat-nasihat dituangkan secara turun-temurun secara lisan dalam bentuk pantun, madah maupun gurindam. Nasihat tersebut terus diingat dan menjadi pedoman hidup yang terinternalisasi dalam pribadi individu. Barangkali Radja Ali Hadji ingin memberikan nasihat kepada rakyatnya. Ternyata tidak hanya bagi rakyatnya di Kesultanan Riau tetapi lebih luas kepada bangsa Melayu bahkan menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Pada makam beliau di pulau Penyengat Kepulauan Riau tertulis “Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu Indonesia Budayawan Di Gerbang Abad XX” sekaligus beliau sebagai Pahlawan Nasional.

06 Januari 2012 0 komentar

DAIK LINGGA

Daik (Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga)

Daik, dahulunya hampir selama seratus tahun menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga, sekarang menjadi ibu kota Kecamatan Lingga, Kabupaten Kepulauan Riau.
Kota Daik yang terletak di sungai Daik, hanya dapat dilalui perahu atau kapal motor di waktu air pasang. Kalau air surut, sungai Daik mengering dan tak dapat dilalui. Perhubungan lainnya adalah melalui jalan darat ke desa Resun di sungai Resun. Dari sana melalui sungai itu terus ke muara (Pancur) yang terletak di pantai utara pulau Lingga, berseberangan dengan Senayang.
Selama seratus tahun Daik menjadi pusat kerajaan, tentulah terdapat berbagai peninggalan sejarah dan sebagainya. Raja-raja kerajaan Riau-Lingga yang memerintah kerajaan selama periode pusat kerajaan di Daik Lingga yaitu : Sultan Abdurakhman Syah (1812-1832), Sultan Muhammad Syah (1832-1841), Sultan Mahmud Muzafar Syah (1841-1857), Sultan Sulalman Badrul Alam Syah II (1857-1883) dan Sultan Abdurrakhman Muazzam Syah (1883-1911).

Mesjid Jamik Daik

Mesjid Jamik terletak di kampung Darat, Daik Lingga, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Riayat Syah (1761-1812) pada masa awal beliau memindahkan pusat kerajaan dari Bintan ke Lingga. Sumber tempatan menyebutkan bahwa bangunan mesjid ini dimulai sekitar tahun 1803, dimana bangunan aslinya seluruhnya terbuat dari kayu. Kemudian setelah Mesjid Penyengat selesai dibangun, maka bangunan Mesjid Jamik ini dirombak dan dibangun lagi dari beton.
Mesjid ini di dalam ruang utamanya tidaklah mempergunakan tiang penyangga kubah atau lotengnya. Pada mimbarnya terdapat tulisan yang terpahat dalam aksara Arab-Melayu (Jawi), berisi : “Muhammad SAW. Pada 1212 H hari bulan Rabiul Awal kepada hari Isnen membuat mimbar di dalam negeri Semarang Tammatulkalam.” Tulisan ini memberi petunjuk, bahwa mimbar yang indah ini dibuat di Semarang, Jawa Tengah dengan memasukan motif-motif ukiran tradisional Melayu.


2 komentar

PULAU PENYENGAT

Makam Engku Putri

Makam Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud ini terletak di pulau Penyengat Indra Sakti. Pulau Penyengat adalah milik Engku Putri, karena pulau ini dihadiahkan suaminya Sultan Mahmud Syah sebagai mas kawinnya sekitar tahun 1801-1802. Selain itu Engku Putri adalah pemegang regalia kerajaan Riau.
Bangunan makam terbuat dari beton, dikelilingi oleh pagar tembok pada tempat yang ketinggian. Dahulu atap bangunan makam dibuat bertingkat-tingkat dengan hiasan yang indah.
Di kompleks ini terdapat pula makam tokoh-tokoh terkemuka kerajaan Riau, seperti makam Raja Haji Abdullah (Marhum Mursyid)
Yang Dipertuan Muda Riau IX, makam raja Ali Haji, pujangga Riau yang terkenal “Gurindam Dua Belas”, makam Raja Haji Abdullah, makam Mahkamah Syariah kerajaan Riau-Lingga, makam Tengku Aisyah Putri – Yang Dipertuan Muda Riau IX, dan kerabat-kerabat Engku Putri yang lain.
Sejarah Riau mencatat bahwa Engku Putri (Raja Hamidah) adalah putri Raja Syahid Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang – Yang Dipertuan Muda Riau IV – yang termashur sebagai pahlawan Riau dalam menentang penjajahan Belanda. Sebagai putri tokoh ternama, Engku Putri besar peranannya dalam pemerintahan kerajaan Riau, sebab selain memegang regalia (alat-alat kebesaran kerajaan) beliau adalah permaisuri Sultan Mahmud, dan tangan kanan dari Raja Jaafar – Yang Dipertuan Muda Riau VI.
Sebagai pemegang regalia kerajaan, beliau sangatlah menentukan dalam penabalan sultan, karena penabalan itu haruslah dengan regalia kerajaan. Engku putri pernah pula melakukan perjalanan ke beberapa daerah lain, seperti ke Sukadana, Mempawah dan lain-lain untuk mempererat tali persaudaraan antara kerajaan Riau dengan kerajaan yang dikunjunginya.
Tokoh ternama dari kerajaan Riau ini mangkat di pulau Penyengat bulan Juli tahun 1884.

Mesjid Raya Sultan Riau

Mesjid Raya Sultan Riau


 
;